top of page
Search

Bagi BSB, Sampah Adalah Berkah

Updated: Oct 12, 2022


Gugum Rachmat Gumilar - 1 Maret 2018, 09:49 WIB


FOUNDER Bank Sampah Bersinar (BSB) yang berada dibawah naungan Yayasan Solusi Bersinar Indonesia (SBI), Fifie Rahardja menyampaikan beberapa solusi dan pandangan tentang permasalahan sampah di sungai Citarum dan Kabupaten Bandung pada umumnya, saat berkunjung ke kantor Pikiran Rakyat yang diterima oleh Pemimpin Perusahaan Januar P. Ruswita di jalan Asia Afrika kota Bandung. Kamis (1/3/2018). Salah satu program yang sedang dijalankan saat ini yakni sosialisasi bertransaksi menggunakan sampah kepada masyarakat.*


SAMPAH kadung identik dengan kotor dan tak berguna. Keberadaannya pun dianggap sebagai masalah besar yang melahirkan bencana, mulai dari banjir sampai beragam penyakit. Namun itu pandangan lama.


Sebuah pola pikir baru berusaha ditularkan Bank Sampah Bersinar. Lewat beragam cara, para penggiatnya berusaha menyadarkan masyarakat bahwa sampah pun bisa bermanfaat. Lebih dari itu, memiliki nilai ekonomi.


"Kalau kita perlakukan sampah secara manusiawi, akan jadi berkah. Kalau tidak manusiawi, jadi bencana," kata Fifie Rahardja, founder Bank Sampah Bersinar dalam kunjungannya ke Kantor Harian Umum Pikiran Rakyat, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Kamis, 3 Februari 2018.


Rombongan Bank Sampah Bersinar diterima langsung oleh Pemimpin Perusahaan PT Pikiran Rakyat Bandung, Januar P Ruswita dan Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, Erwin Kustiman.


Sebenarnya, kata Fifie, agar sampah bisa memiliki nilai ekonomi, prosesnya sangat mudah. Dimulai dengan pemilahan sampah sejak di tahapan rumah tangga.


Pemilahan sampah bisa dilakukan ke dalam empat kelompok terlebih dahulu: kertas dan kardus, sampah plastik, besi dan logam, serta kaca. Warga bisa membawa keempat kelompok sampah tersebut ke Bank Sampah Bersinar untuk menukarnya dengan sejumlah barang kebutuhan.


Ide ini, kata dia, bermula dari keprihatinan terhadap sampah. Di Kabupaten Bandung saja, berdasarkan data pemerintah setempat, produksi sampah setiap harinya mencapai 1.725 ton. "Kalau ini kita kelola bersama, dikalikan Rp 1.000 saja, kita sebenarnya sedang membuang Rp 3 miliar per hari," kata dia.


Fifie menyebut, program ini juga telah menyusutkan angka produksi sampah. "Yang sudah ikut bank sampah, sampahnya terkurangi sampai 75%," kata dia.


Saat ini, jaringan Bank Sampah Bersinar sudah tersebar di 13 kecamatan di Kabupaten Bandung plus 2 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat: Lembang dan Cihampelas. Total, Bank Sampah Bersinar sudah memiliki nasabah sekitar 7.000 orang. "Sampah bisa jadi nilai tukar baru. Kami memulainya dari Cieunteung (Kabupaten Bandung), persis di titiknya (banjir)," tutur Fifie.


Mengingat titik mula gerakan ini berasal dari kawasan sekitar Sungai Citarum, aliran sungai terpanjang di Jawa Barat itu juga menjadi salah satu fokus kerja Bank Sampah Bersinar. Fifie berharap, gerakan ini bisa menggerakkan masyarakat banyak, sehingga kondisi Sungai Citarum bisa jauh lebih baik di masa mendatang.


"Sekitar tahun 1975, ikan di Citarum itu beratnya sampai 25 kilo. Sampai sekarang terus mengecil dan tinggal tersisa ikan sapu. Belum lagi jika banjir, anak-anak sampai tak sekolah," kata Fifie memaparkan masalah sampai di Sungai Citarum.


Kota Seribu Terang

Kini, Bank Sampah Bersinar sekaligus Yayasan Solusi Bersinar Indonesia sebagai penaungnya, tengah menyiapkan peringatan tahunan berdirinya Bank Sampah Bersinar. Sebuah program baru siap digalakkan. Namanya, Kota Seribu Terang.


Gai Suhardja selaku penasihat yayasan menyebut, Kota Seribu Terang merupakan rangkaian gerakan yang bertujuan mengajak masyarakat mengubah perilaku, khususnya terkait sampah. Namun dalam rangkaian program yang direncanakan berlangsung Maret sampai September 2018 ini, terdapat pula program yang menyentuh aspek lain, seperti seni dan ekonomi.


"Ada seminar, focus group discussion terkait lingkungan hidup dan masa depan sungai, workshop bank sampah, juga pelatihan seni lukis untuk seniman Desa Jelekong dengan material sampah. Dalam program ini, kami bermitra dengan Pikiran Rakyat dan banyak juga pihak lainnya," kata Gai pada kesempatan yang sama.


Wakil Pemimpin Redaksi Harian Umum Pikiran Rakyat, Erwin Kustiman berharap, permasalahan sampah di Jawa Barat, khususnya di sepanjang aliran Sungai Citarum bisa segera terselesaikan. Pasalnya, kotornya Sungai Citarum sudah menjelma menjadi masalah klasik. Tak kunjung terselesaikan.


Saat ini, muncul harapan baru untuk menyelesaikan problem tersebut, yakni dengan adanya perhatian lebih dari pemerintah pusat. "Setelah Jokowi turun langsung ke lapangan, masalah ini sangat menyita perhatian. Citarum ini tidak pernah muncul solusi seperti yang diharapkan. Ini bukan masalah satu atau dua tahun terakhir," tutur dia.***


Editor: Gugum Rachmat Gumilar




36 views0 comments
bottom of page