top of page
Search

Bank Sampah Bersinar Terinspirasi dari Malang, Unitnya Ada yang Bisa Berbagi dengan Anak YatimArt

Updated: Oct 12, 2022


BANK Sampah Bersinar (BSB) di Jalan Terusan Bojongsoang, Baleendah, sekilas seperti minimarket. Jumat (10/1) pagi, minimarket itu masih sepi. Hanya beberapa petugas siap melayani warga yang akan menukarkan sampahnya.


Tumpukan sampah, seperti sampah plastik, kardus, dan botol, terlihat di bagian belakang gedung ini. Sampah-sampah itu merupakan setoran dari warga yang menabung atau berbelanja di sana.


"Warga bisa berbelanja sembako di sini dengan sampah," kata John Sumual (50), Manajer Developmen BSB, di ruang kerjanya, Jalan Terusan Bojongsoang, Jumat (10/1).


Selain berbelanja, warga juga bisa menabung di BSB. Sampah-sampah itu disetorkan warga ke BSB. Kemudian warga akan mendapat rekening BNI untuk tabungan.


BSB terbentuk dari inspirasi booming-nya bank sampah Malang. Bank sampah Malang ini merupakan bentukan dari Bank Sampah Bantul. Bank Sampah Bantul adalah bank sampah pertama di Indonesia.


"Kami terinspirasi oleh bank sampah Malang dan kami sesuaikan dengan karakteristik masyarakat di Bandung," kata John.


Kini, kata John, BSB menjadi bank sampah induk Kabupaten Bandung. "Tingkat keberhasilan meminimalisasi 0,001 persen lah, tapi minimal bisa mengubah kebiasaan masyarakat untuk membuang sampah ke sungai," katanya.


Bank Sampah Bersinar di Jalan Terusan Bojogsoang, Kabupaten Bandung. (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

Menurut Maya, admin di BSB Bojongsoang, pengelolaan BSB lebih kepada sampah-sampah anorganiknya. Namun, katanya, BSB juga bisa menerima sampah organiknya untuk dijadikan pupuk.


"Kami juga bekerja sama dengan Departemen Pertanian. Kami bisa mengelola sampah organik menjadi pupuk kompos," kata Maya, Jumat lalu.


Maya berpendapat upaya ini belum berhasil 100 persen. Namun, katanya, BSB telah mengurangi 30 ton sampah per bulan yang terkumpul dari masyarakat.

BSB, yang berdiri 2014, sudah memiliki 200 unit (kelompok binaan) dan punya beberapa instansi untuk

menabung sampah.


Menurut Maya, tanggapan dari masyarakat luar biasa, mereka langsung menyetor sampah-sampah tersebut.

Bank Sampah Bersinar di Terusan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Tribun Jabar/Januar P Hamel)

Sosialisasi yang dilakukan BSB adalah melakukan pelatihan. Dalam pelatihan itu, masyarakat diedukasi kenapa sampah harus disetor ke bank sampah. Kemudian dijelaskan juga jenis-jenis sampah.


Kalau mau menabung, sampah dipilah dulu. Yang anorganiknya ada yang basah ada yang kering. Mulailah dari diri sendiri untuk memilah," kata Maya.

Ismail, pengelola unit BSB di RW 09, Manggagang, Baleendah, Kabupaten Bandung, tidak semulus yang dibayangkan. Bank Sampah Ceria yang dikelolanya sempat mandek di tengah jalan. Dia harus memberikan pengertian kepada warga RW 09, Keluarahan Manggahang, Kecamatan Baleendah, dengan berbagai penolakan.


Ismail tidak bisa berjalan sendirian karena mengelola bank sampah itu butuh tim. Untungnya, Ismail tak patah arang. Ilmu dari Bank Sampah Bersinar yang ia peroleh terus disebarkannya agar masyarakat sadar betapa sampah itu sangat bernilai ekonomis.


Suatu hari, Ismail, yang juga pengurus DKM di Masjid Assalam di lingkungannya, mengajak pengurus DKM dan majelis taklim untuk berbagi dengan anak yatim di lingkungannya.


Awalnya berjalan dengan baik, tapi kemudian program tersebut berhenti. Dia pun berpikir keras agar dana untuk anak yatim tetap ada.


Ismail pun mengajak DKM dan warga untuk membentuk lembaga pengumpul infak. Berbeda dengan infak yang lain, dia mengajak masyarakat untuk berinfak sampah. Kemudian sampah yang terkumpul disetor ke Bank Sampah Bersinar.


Di setiap ada kesempatan, di pernikahan, kihtanan, atau acara lain di RW-nya, dia selalu tampil dan memberikan pengertian kepada masyarakat betapa pentingnya pemilahan sampah. "Iya, saya mengajak masyarakat di sini untuk berinfak dengan sampah, bukan dengan uang. Alhamdulillah, ada respons," kata Ismail, yang juga Ketua RW 9, Kelurahan Manggahang, Kecamatan Baleendah.


Program itu pun berjalan dengan mulus. Ismail dibantu oleh 14 orang untuk menjalankan program ini. Keempat belas orang itu ada yang menyisir sampah di rumah-rumah warga seminggu sekali. Kemudian dipilah di gudang yang tersedia.


"Kami lakukan satu minggu sekali. Jumlah sampah yang terkumpul setiap minggu bervariasi," katanya.

Dua minggu sekali sampah yang dikumpulkan Ismail dan tim diangkut armada Bank Sampah Bersinar ke tempat penampungan di Jalan Terusan Bojongsoang. Ismail bersama anak yatim di sebuah acara di Masjid Assalam, RW09, Manggahang, Baleendah, Kabupaten

Ismail mengatakan, semua hasil penjualan sampah itu tidak digunakan untuk pribadi atau menggaji timnya. Uang hasil pengumpulan sampah tersebut benar-benar diinfakkan untuk para anak yatim dan jompo di lingkungan RW-nya.


"Kami mencari berkah. Tim juga enggak digaji. Kami benar-benar sukarela. Kalaupun ada uang yang dipakai, itu untuk keperluan operasional, bukan masuk ke kantong pribadi," katanya.


Ismail berharap, nantinya, para anak yatim bisa diurus oleh timnya seutuhnya. Ismail mengatakan, pada 2018, timnya berhasil mengumpulkan Rp 11 juta di Bank Sampah Bersinar. Itu juga yang membawanya mendapat predikat unit terbaik BSB.


Ismail mengaku takkan bosan memberikan pengertian kepada masyarakat betapa sampah itu bernilai. Selain untuk lingkungan di RW-nya, Ismail berharap warga bisa berinfak dengan sampah-sampah tersebut. (januar ph)


106 views0 comments

Comments


bottom of page